Umi yang Terindah

Dalam setiap hubungan yang terjalin antara manusia di dunia ini tentu ada pertemuan juga perpisahan. Termasuk hubungan kasing sayang antara dua sejoli yang merajut cinta. Senyuman selalu menghiasi di awal hubungan tersebut dimana  hari-hari penuh keceriaan. Dua sejoli tidak akan berpikir bagaimana nanti kelanjutan kedepan yang penting jalani saja.

Penulis terlibat dalam percintaan ini merasa sangat bahagia saat kata “abi” terlontar dari mulutnya, mulut “umi”. Sebuah kata penuh makna dari seorang umi yang abi sayangi dengan tulus. Dengan segenap jiwa rasa abi akan melakukan apapun untuknya karena umi yang begitu berarti untuk abi.

Awal dari pertemuan yang cukup panjang mengantarkan perjalanan cinta abi dan umi. Di sebuah instansi pendidikan swasta kisah ini bermula merajut dan berkembang menjadi satu hati. Hari demi hari terasa indah seraya dunia milik abi dan umi saja. Tidak pernah ada masalah apapun, hm…mungkin baru seumur jagung hubungan ini.

Tak diinginkan

Dua bulan ini abi dan umi tetap setia untuk mempertahankan keutuhan cinta ini. Namun masalah yang ada mulai muncul satu demi satu. Abi bertahan dalam skeptisme ini, entah mengapa setiap abi menjalin hubungan dengan seseorang selalu dihadapkan pada pihak ketiga. Abi menyadari umi yang begitu cantik secara fisik dan hati tentu akan ada yang melirik. Abi juga menyadari tiada pengekangan untuk umi agar tidak bergaul dengan teman-teman cowoknya. Abi bersikap dewasa dan berpikir positif terkait hal ini.

Abi mengharapkan tidak adanya pengekangan yang ada agar umi seraya menyadari betapa tulusnya rasa sayang abi untuknya. Abi yang penuh dengan kesabaran mendengar cerita-cerita tentang beberapa cowok yang mulai mendekatinya. Perih saat itu, tapi karena perasaan sayang abi yang begitu kuat hal ini ditepisnya sebagai ujian. Manakala umi bercerita tentang beberapa cowok yang mulai memberi respon untuknya. Abi sebenarnya marah, abi berpikir,”apa kebebasan yang aku berikan itu salah?”.

Kemarahan yang memuncak

Saat abi ingin melaksanakan tugasnya sebagai pengajar asiten dosen, abi tersenyum karena abi melihat umi di sudut depan ruang kuliah. Dengan lantang abi berjalan mendekatinya meski di kepala sudah menumpuk banyak pertanyaan,” mengapa umi bersama cowok-cowok?”. Ach..hiraukan saja pikiran negatif ini, Abi mulai duduk dan sedikit ucapan basa-basi untuk memulai percakapan sebelum abi mengajar. Namun abi merasa aneh sekali saat umi semakin dekat dengan salah seorang cowok (baca: BJS). Abi bersikap sabar melihat ini semua lalu abi sengaja melakukan semacam tes kecil untuk menguji kepedulian umi. Abi bersikap diam dan menjauh dari mereka tapi ternyata tidak dihiraukannya juga. Abi merasakan umi tidak peduli dan tidak ingin abi berada disampingnya. Suatu pertanyaan,”bagaimana jika ada seorang pacar disampingnya tapi pacar tersebut dianggapnya sebagai teman biasa dan malah mementingkan orang lain?”.

Abi merasa tidak kuasa melihat fenomena ini dan pergi tanpa kata dari umi. Hari itu juga abi bergegas mencari informasi tentang kedekatan umi dengan BJS. Abi bertemu dengan teman yang juga satu program studi dengan BJS. Kaget, tidak percaya dan rasanya ini semua tidak mungkin. Teman abi dengan rasa pedulinya sebagai seorang sahabat menceritakan apa yang sebenarnya terjadi antara umi dengan BJS. Abi mengeluarkan rona merah berair dimatanya dan sembab mendengar ini semua. Teman ini tidak mungkin bohong karena dia sahabat kecil abi.

Dari kejadian ini abi mulai marah besar dan melakukan stop komunikasi dengan umi dengan harapan umi menyadari kesalahan yang diperbuatnya. Tapi semua ini sia-sia,  tak kuasa menahan ini semua akhirnya abi datang dan minta kejelasan ini semua sama umi. ”abi jangan paksa umi untuk tidak dekat dengan BJS”, sahut umi kala itu. Zzztzz…..Sakit sekali saat mendengar umi berbicara seperti itu. ”Apa umi mengerti tentang apa yang dirasakan abi?”, sahut hati abi. Sebuah kekecewaan yang teramat besar pada umi karena tidak bisa mengindahkan arti kebebasan dalam bergaul dengan cowok.

Kejujuran

Semua ini telah terjadi dan akhirnya hubungan abi dengan umi tidak bisa dipertahankan. Abi tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi ini, satu sisi abi merasa kecewa sekali dengan umi tapi disisi lain rasa sayang abi kepada umi masih tersimpan di lubuk hati ini. ”Apa abi seorang pria cengeng yang tidak bisa menerima keadaan ?”. Abi sebagai pria yang tersakiti tapi mengapa abi berharap kejadian ini tidak terjadi. ”Apa abi bukan pria ?, pria yang menjaga imagenya !”. Andai dia tahu bahwa abi bukan tipe pria yang mudah jatuh cinta dan mudah untuk melupakan seseorang. Jika memang umi sayang sama abi tentunya kedepan entah kapan itu, umi akan menghilangkan kebiasaannya yang terlalu dekat dengan teman-teman cowok hingga diluar batas-batas seperti orang pacaran. Meski tidak bersama lagi abi harap umi bisa berubah dari kebiasaan umi ini, demi umi demi masa depan umi.

Salatiga, 19 Desember 2009

ABI

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: